Aku berikan Pundakku…

January 20, 2009

Langit kota palembang sore itu berawan, Jembatan Ampera sebagai Permata Musi terbentang gagah menopang lajunya ribuan kendaraan yang tanpa henti menggilas tubuhnya. Didalam mobil travel duduk disamping saya seorang ibu-ibu yang mengenakan kerudung, mungkin usianya sekitar 58 th. Dari raut wajahnya jelas ia terlihat lelah.
Pukul 18.21 mobil travel berhenti di Stasiun pengisisian BBM, sayup-sayup terdengar suara adzan berkumandang, saya mengambil sebotol air minum dan menegguknya 3x…Alhamdulillah… lalu ibu disebelah saya berkata

Ibu : Puasa ya dek ?
Saya : Alhamdulillah iya bu
Ibu :Kalau dalam perjalanan jauh, puasa tidak diwajibkan
Saya : Perjalanan ini tidak berat kok bu, silahkan rotinya bu… jawab saya sambil menawarkan sebungkus roti kepadanya.
Ibu : Iya terimakasih jawab si ibu sambil tersenyum

Perjalanan tinggal 3 jam lagi, bosan rasanya saya di dalam travel ini, berkali-kali saya mencoba memejamkan mata berkali-kali juga saya gagal untuk terlelap. Sementara ibu disebelah saya terlihat mulai mengantuk, kepalanya turun naik, miring kanan miring kiri dan tiba-tiba ” Plukk…” kepalanya mendarat dan tersandar di pundak saya. Saya dalam keadaan terdesak dan bingung, lewat 15 menit si ibu ga sadar-sadar juga kalau kepalanya numpang, semakin lama pundak saya terasa pegal, apalagi jika mobil sedang menikung kearah kiri beban tubuh si ibu yang cukup gemuk semakin membuat saya terhimpit. Tidak terasa sudah 1 jam, dan kepala si ibu tidak beranjak dari pundak saya, malah si ibu tampak tambah nyaman dan lelap “Oohhh…”

Namun saat itu juga saya tersadar dan berucap ” Astagfirullah….” saya jadi teringat Ibu dirumah . Ibu mengandung saya sejak usia sepersekian detik hingga 9 bulan dalam perutnya, selama itu juga ibu saya merasakan pegal, mual, mules, berjuang antara hidup dan mati, tapi toh ia berhasil melahirkan dan membesarkan saya bersama saudara-saudara saya yang lain. Lalu kenapa hanya menopang kepala seorang ibu di pundak dalam waktu 1 jam saya tidak bisa dan mengeluh ? Akhirnya saya mebiarkan kepala si ibu bersandar di pundak saya, sampai si ibu tersadar dan melhat jam di HP nya, pukul 21.30… yah 2 jam setengah dia tertidur di pundak saya…


Berbagi Rejeki

January 14, 2009

Malam itu Kereta Limex Sriwijaya jurusan Tanjung Karang berjalan pelan tanpa semangat, tidak sabar rasanya hati saya untuk segera sampai di kampung halaman. Jam di HP saya menunjukkan pukul 05:03 pagi, perlahan kereta berhenti dan saya pun tiba disebuah stasiun kecil kampung saya. Segera saya mengambil tas dan bergegas turun sambil melangkah hati-hati melewati rintangan orang-orang yang tidur di lantai kereta.
Hembusan angin lembut pagi membuat saya merangkapkan kedua tangan didada menahan dingin, sampai diluar stasiun saya menghampiri sebuah becak dan mencoba untuk menawar…

Saya : Ke jalan asri berapa bang ?
T. Becak : 7000 jawabnya
Saya : 4000 aja bang… biasanya segitu kok , saya mencoba untuk menawar
T. Becak : Ga’ bisa, ini masih pagi…kalau siang boleh
Saya : 5000 ya
T.Becak : Ga’ bisa, kl mau murah becak itu aja… sambil tangannya menunjuk sebuah becak di pojok dinding
Saya : Ya udah, makasih bang….

Saya pun berlalu dan menghampiri becak yang disebutkan abang becak tadi sambil berfikir mengingat kata-kata si abang tadi ” …Kalau mau murah becak itu aja…” apa maksudnya ya ? saya penasaran…
Sesampainya di depan becak itu hati saya terenyuh… tampak seorang bapak tua tertidur pulas di dalam becak tersebut, saya merasa tidak tega untuk membangunkannya, tapi saya tidak ada pilihan lain, perlahan saya membangunkannya

Saya : Pak….pak…
Bapak : agak tergagap dan dia segera bangun… Ya…
Saya : narik ga’ pak ?
Bapak : oh..iya..ya.. kemana dek ?
Saya : Jalan asri pak, berapa ?
Bapak : 3000 sambil menunjukkan 3 jarinya
Saya : ??? belum lepas rasa kejut saya si bapak langsung menyuruh saya naik
Bapak : Ayo naik…kata si bapak sambil memutar becaknya

Diperjalanan saya mikir, apa bapak ini ngigau dan salah sebut harga ya….namun hati saya semakin terenyuh dan tidak tega mendegar hembusan nafas yang berat dari bapak penarik becak, belum lagi kondisi becak yang terlihat sudah tua dan mulai merapuh. Saya pun berniat turun untuk mencari becak yang lain…

Saya : Pak… saya turun sini aja pak …
Bapak : Kok turun sini, kan belum sampe
Saya : Gak apa-apa pak…
Bapak : Kenapa dek, bapak masih kuat kok jangan khawatir…jawabnya sambil terus mengayuh becaknya

Untunglah rumah saya tidak terlalu jauh dan tidak berapa lama saya sudah sampai di rumah, saya segera turun dari becak dan merogoh kantong mengeluarkan selembar uang 20.000 dan menyerahkan kepada bapak itu

Bapak : Uang pas aja dek, bapak ga ada kembalinya…
Saya : …. ya udah kembalinya buat bapak aja, saya juga lagi ga ada uang pas
Bapak : Makasih ya dek…. alhamdulillah bapak bisa bayarin SPP Cucu bapak pagi ini …
Saya : …… ???

Si bapak tua pun berlalu sambil memutar becaknya ….

Kalau rejeki memang tidak kemana-mana larinya…tapi kalau bukan rejeki sekeras apapun usaha rejeki tidak akan berpihak kepada kita….

Seandainya Tukang becak pertama menerima tawaran saya mungkin pagi ini adalah rejekinya, tapi ternyata malah si Bapak tua yang mendapat rejeki lebih…Tuhan memang maha adil…


Sabar itu berbuah manis

January 5, 2009

Delapan tahun yang lalu saya masih melihat laki-laki paruh baya itu berjalan keliling kampung sambil mendorong gerobak untuk berjualan Tekwan (salah satu makanan khas palembang). Tanpa disadari kulitnya menghitam terbakar sinar matahari, kedua kakinya terlihat lusuh dengan sandal jepit yang hampir putus. Jika dagangan Tekwan nya mulai sepi laki-laki itu pun beralih menjual Bakso. Begitu seterusnya yang dia lakukan untuk bertahan hidup demi memberi makan istri dan ke lima anaknya.

Salah satu anak laki-laki nya adalah teman bermain saya waktu kecil, saya masih ingat beberapa teman saya terkadang meledek profesi ayahnya sebagai pedagang keliling yang berganti-ganti profesi. Saya bisa membayangkan perasaannya saat mendengar ayahnya dicemooh, tapi dia tidak bisa berbuat apa-apa selain diam dan tersenyum getir.

Liburan akhir tahun 2008 saya manfaatkan untuk benar-benar berlibur dan merefresh pikiran yang sempat kalut dan gundah. Sore itu badan saya terasa pegal, dan saya minta tolong kepada saudara saya untuk dicarikan tukang urut. Saudara sayapun bilang “…ada tukang urut yang Ok, kalau mau jam 5 sore ini dia dateng…” sayapun menyanggupinya.

Akhirnya tukang urut yang dijanjikan saudara saya datang. sahabat…saya tercekat melihat laki-laki yang ada dihadapan saya, ternyata dia adalah ayah dari teman saya, laki-laki paruh baya yang dulu pedagang keliling kampung. Subhanallah…Saya menyalaminya, saya masih bisa mengenal dengan jelas wajahnya, tapi mungkin dia sudah lupa dengan saya. Sambil mengurut saya kami berbincang-bincang, lalu saya bertanya dengan sangat hati-hati :

Saya : “Maaf kak, gimana ceritanya bisa menjadi tukang urut ? ”

Dia : sambil tertawa ” Ini cobaan lagi dari Tuhan, kakak sendiri sudah lupa ini cobaan yang keberapa…dan kakak tidak tahu setelah jadi tukang urut kakak mau jadi apa lagi …”

Saya : Kok gitu kak ?

Dia : Sebenarnya kakak sudah bosan dengan segala cobaan, tapi ternyata tuhan ingin menyadarkan kakak dan menunjukkan kekuasaan Nya.

Saya : Maksudnya ?

Dia : Dengan banyaknya cobaan, kakak jadi sering mengeluh…tapi kakak tidak pernah mengeluh kepada istri atau kepada orang lain, kakak hanya mengeluh kepada Tuhan…kakak selalu memohon agar diberi pekerjaan yang baik dan halal…”

Saya : Tuhan denger ga’ ?

Dia : kakak yakin Tuhan mendengar, buktinya kakak sekarang jadi tukang urut.

Saya : Letak kekuasaannya dimana ?

Dia : Suatu hari saat kakak lagi dagang keliling, ada orang yang terkena musibah, kakinya tertimpa kayu iseng-iseng kakak nawarin diri buat ngurut, eh…ternyata dalam 2 hari kakinya sembuh, dan sejak itu banyak orang yang minta di urut sama kakak , termasuk kamu dek … jawabnya sambil kami tertawa.

Keesokan harinya saya menyempatkan diri keliling kampung melihat-lihat suasana, suasana kampung yang tidak saya jumpai di kota tempat saya bekerja. Di depan sebuah lorong jalan saya sempat berhenti sebentar saat melihat sebuah bangunan rumah . Delapan tahun yang lalu rumah itu tampak reot, namun sekarang rumah iu sudah berubah menjadi rumah yang bagus, itulah rumah laki-laki pedagang keliling yang kini sudah berubah menjadi lebih baik kehidupannya… Tuhan memang selalu mendengar keluhan umatnya yang mengeluh kepadanya…

Mungkinkah selama ini kita sudah salah memilih tempat mengeluh ?


Maaf…

December 2, 2008

Saat mobil mulai bergerak…beberapa kali terdengar suara batuk-batuk dari kursi bagian belakang, jujur saja saya terganggu. Perlahan saya menoleh kebelakang, seorang ibu tampak menutupi mulutnya dengan sapu tangan sambil berusaha menahan batuk yang sudah sampai dipangkal kerongkongan. Sekejap dua pasang mata kami beradu…sedikit hati saya terasa berdenyut, saya tidak tahu kenapa. Malam itu pukul 23.17 saya dan orang-orang yang ada di dalam mobil mempunyai tujuan yang sama, menuju kota Palembang. Pukul 23.30 mobil sampai di pool, semua orang diturunkan untuk memisahkan penumpang mobil AC dan Non AC.
Saat semua orang turun saya lihat ibu yang ada dibelakang saya tidak bergerak sama sekali dan tidak berusaha untuk ikut turun bersama penumpang yang lain. Perlahan saya coba bertanya …

Saya : Ga’ turun bu ?
Ibu : ( terdiam…) hanya senyum sedikit dan menggelengkan kepala
Saya : Kita mau ganti mobil bu…
Ibu : (diam lagi ) hanya menyorongkan tangan tanda mempersilahkan saya saja yang turun

Saya pun segera turun untuk registrasi tiket dan berganti mobil, sambil menunggu mobil berangkat saya duduk di kursi tunggu tepat di belakang mobil saya dan ibu tadi. Petugas loket pun segera mengabsen seluruh penumpang satu persatu, saat menyebut nama seorang wanita petugas loket kebingungan karena orang yang dipanggil tidak ada, beberapa kali dia memanggil tapi tetap tidak ada jawaban sampai akhirnya terdengar suara serak disertai batuk dari balik kaca mobil “saya pak…” ternyata ibu yang dibelakang saya tadi yang menjawab. Terlihat wajah petugas loket kurang senang dan ngomel-ngomel sambil berkata “Lain kali turun dulu bu, absen dulu …” Setelah selesai absen selanjutnya petugas loket menaikkan barang-barang penumpang ke bagasi belakang.

Saat bagasi belakang dibuka saya kaget dan tersadar sambil mengucap “Astagfirullah….” saya terdiam sejenak…hati saya berdebar kencang…ingin rasanya saat itu juga saya beranjak berdiri menemui ibu tadi dan mengucapkan satu kata …”Maaf…”

Tahukah sahabat apa yang saya lihat di bagasi itu ? sebuah Kursi Roda… dan saya tahu kenapa ibu itu tidak beranjak turun dari mobil, dan seandainya petugas loket itu juga sadar mungkin dia juga mempunyai perasaan yang sama seperti saya…


Salahkah…

November 26, 2008

Sebut saja namanya pak Nanang…seorang lelaki tua yang umurnya sekitar 52 tahun. Setiap hari ia bekerja sebagai juru parkir didekat kantor saya. Dengan menggunakan topi dan seragam khas berwana orange bertuliskan Penegak Disiplin dibagian punggungnya, tanpa lelah pak nanang mengatur dengan rapi setiap kendaraan yang parkir di daerah kekuasaannya itu. Lalu apa yang istimewa dari pak nanang dimata saya …. ?

Siang itu jam menunjukkan pukul 11.50 menit, saya bergegas mempersiapkan diri untuk ke Masjid yang jaraknya sekitar 200 meter dari kantor untuk melaksanakan sholat Dzuhur. Setelah selesai sholat saya lihat di situ juga ada pak Nanang dan kami pulang bersama. Diperjalanan saya ngobrol dengan beliau dan bertanya…

Saya : ” Pak Nanang setiap sholat Dzuhur ke mesjid ya ?”
Pak Nanang : ” Iya dek, setiap Dzuhur, ashar, Maghrib, isya, shubuh juga kalau sempet”
Saya : ” Trus yang nunggu parkir siapa kalau bapak sholat ?”
Pak Nanang : ” Bapak serahkan sama Allah dek, mungkin bukan rejeki saat Bapak sholat terus ada
yang parkir disitu, yang penting Bapak jangan sampai kehilangan rejeki untuk bisa
berhadapan dengan Allah ”
Saya : ” Bapak tinggal dimana ? ”
Pak Nanang : ” Dibelakang gedung itu, deket rumah pak RT ” sambil tangannya menunjuk sebuah
gedung 2 tingkat
Saya : ” Rame ya pak parkirannya ? ”
Pak Nanang : ” Kadang-kadang dek, anak sekolah sama orang kantoran yang makan disini ”

Pembicaraan kami terputus karena pak Nanang ingin berganti pakaian dan bertugas kembali…
Buat saya pak Nanang punya keistimewaan yang tidak semua orang bisa melakukan kewajiban sebagai umat muslim , apa saja ….

1. Sholat Berjamaah di Mesjid
Dengan tegasnya dia berkata ” yang penting Bapak jangan sampai kehilangan rejeki untuk bisa berhadapan dengan Allah ” subhanallah… saya kagum dengan pernyataan beliau. Dilain pihak saya atau anda lebih menyukai sholat sendiri-sendiri atau bahkan sibuk dengan kerjaan masing sampai lupa suara adzan yang mengaung di seantero pasar itu. Tulikah telinga kita ? kita tidak tuli tetapi kita ditulikan pekerjaan duniawi yang memaksa kita harus bersikap tuli.

2. Berganti Pakaian Saat Beribadah
Secara tidak sadar beliau mementingkan kebersihan dan tahu tata cara menghadap Allah. Saat bertugas sebagai juru parkir pakaian pak nanang layaknya juru parkir lainnya, namun saat beribadah beliau mengganti pakaian dengan pakaian yang bersih dan rapi. Ini sangat berbanding terbalik dengan dengan saya pribadi dan mungkin juga anda, yang memilih menggunakan pakaian kerja yang sudah 2 sampai 3 hari dipakai tapi dipakai juga untuk menghadap Allah. Salahkah kita ? kita tidak salah tapi disalahkan oleh pekerjaan duniawi yang memaksa kita berlaku seperti itu.


Untuk Siapa Saja…

November 21, 2008

Untuk siapa saja yang saat ini sedang dalam situasi tidak menentu dalam pekerjaan, saya mencoba berbagi dan memberi support agar teman-teman semua bisa kembali bersemangat untuk bekerja 🙂

1.Tetap Semangat
Hal yang membuat kita semangat dalam bekerja karena kita mempunyai IMPIAN. Contoh kita mempunyai impian ingin punya kendaraan pribadi, ingin punya rumah, ingin menikah, ingin membahagiakan orang tua, ingin hidup lebih baik, dll. maka semua itu bisa dilakukan dengan cara bekerja agar bisa mendapat penghasilan dan bisa meraih impian tersebut. Mustahil kita bisa meraih impian tanpa bekerja (kecuali dapet rejeki nomplok).Jadi saat kita sedang Down, malas bekerja, kurang semangat , ingatlah bahwa kita mempunyai IMPIAN yang harus kita capai.

2.Hadapi Tekanan dengan Prestasi bukan dengan Keluhan
Dalam setiap pekerjaan selalu ada yang namanya tekanan. Tetapi tanpa kita sadari tekanan itulah yang akan menghasilkan prestasi buat kita. Saat ini banyak pekerja menghadapi sebuah tekanan dengan keluhan, akibat yang ditimbulkan dari keluhan itu adalah kita selalu negative thinking, malas bekerja, tidak semangat dan ujung-ujung berakhir dengan sebuah Surat Peringatan atau PHK.
Jadi saat kita berada dalam sebuah tekanan, hadapi dengan cara yang biasa-biasa saja tetapi kerjakan dengan penuh semangat dan tanggung jawab untuk menghasilkan prestasi. Setiap tekanan bernilai positif 5 dimata atasan, tetapi setiap keluhan akan bernilai negativ 25.

3.Jadikan Tugas Kantor sebagai alat metode pembelajaran
Tugas kantor akan selalu ada, dan tahukan bahwa tugas adalah sebuah ilmu baru. Banyak yang menganggap tugas sebagai beban. Pandangan Ini harus kita balik menjadi Tugas adalah ilmu baru yang harus di pelajari. Bagaimana jika tugas yang diberikan bertumpuk-tumpuk ? yang satu belum selesai udah dikasih tugas lagi ? . Ya disini sebenarnya kita sudah bisa mengambil sebuah pembelajaran baru lagi yaitu me manage waktu kerja kita dengan baik dan maksimal. Seorang atasan tentunya memahami waktu kerja yang dimiliki bawahannya, dan memberikan tugas sesuai dengan kemampuannya.
Mungkin masih ingat saat kita belajar matematika di SD, kita di beri 1 contoh soal dan kita bisa menjawabnya dengan baik, tetapi saat guru memberi soal lagi kita tidak bisa menjawabnya. Padahal sang guru hanya memodifikasi sedikit soal tersebut atau bahkan hanya mengganti angkanya saja… kita sudah kebingungan. Itu Artinya guru tidak salah justru guru menginginkan muridnya bisa lebih maju dan kreaif tidak berpaku pada satu contoh saja.
Jadi Saat kita mendapakan banyak Tugas jangan bingung dan pasrah, tetapi kerjakan saja berdasarkan pengalaman dan pengetahuan kita, jika kurang mengerti tanyakan kepada atasan yang memberi tugas atau teman yang kita anggap lebih mengerti. Dan jadikan tugas sebagai ilmu untuk bekal pengalaman.

4.Mari berdemokrasi
Setiap masalah selalu ada solusi. Bicarakan semua permasalahan dan hambatan dalam pekerjaan dengan atasan . Saya yakin atasan akan bisa mengerti dan memahami nya selagi kita terbuka dan jujur dengan hambatan yang kita alami. Yang mesti diingat atasan tidak hanya mengahadapi 1 tugas dan 1 bawahan, tetapi banyak tugas dan banyak bawahan.
Jadi jangan sungkan-sungkan untuk berdemokrasi dengan atasan kita jika itu memang di perlukan. Karena itu adalah salah satu senjata kita sebagai karyawan. Bagaimana seorang atasan bisa tau masalah kita jika kita tidak pernah bisa untuk berbicara dengan atasan kita.

Semoga bisa memberi pencerahan dan kalau ada kurang pas atau ada yang mau nambahin monggo di persilahkan, saya juga baru belajar membuat artikel motivasi 🙂


Pagiku…

November 19, 2008

Alunan music instrument Richard Marx, Right Here Waiting memecah kesunyian ruang tidur saya, dan saya tahu persis suara itu berasal dari Alarm HP yang saya setel secara beruntun dari jam 03.00, 03.30, 04.00,04.30.05.00,05.30 dan kalian tahu apa yang saya lakukan setiap kali alarm berbunyi ? ya mematikan alarm kemudian tidur lagi *gdubrakkkk* sampai seseorang diujung sana membangunkan saya dan mengingatkan saya kalau sebentar lagi Kiamat, baru deh saya cepet-cepet bangun.
Pagi ini mencoba membiasakan diri lagi untuk olahraga kecil, lari, scotjam, push up, sit up, biasalah pola kayak gini perlu banget buat jaga kesehatan, karena saya sadar kesehatan itu mahal… .Halllah….
Nah sekedar berbagi tips saat bangun ada 3 hal yang sebaiknya dilakukan :
1. Jangan langsung bangun berdiri , tapi duduk dulu sejenak tujuannya agar tidak pusing atau kaget
2. Minum air putih, sebelum tidur sediakan dahulu air putih agar saat bangun ga repot kedapur lagi untuk minum.
3. Cuci muka, dan kalau bisa lakukan olahraga ringan

Setelah itu silahkan cari aktifitas lain yang sudah menjadi rutinitas kalian masing, mungkin memasak, mandi, sarapan dll. Ada yang mau berbagi tips apa yang harus dilakuakn saat bangun tidur ?
Saya mau goreng nasi dulu aaahhh…laper nih ;p