Antara Bakul dan Dua Kantong Plastik

December 22, 2009

Jam menunjukkan pukul 22:29 malam, namun isyarat tidur belum juga saya dapatkan. Berkali-kali saya membolak-balikan badan tetap saja tidak berhasil menghantarkan jiwa untuk beristirahat. Karena kesal akhirnya saya memutuskan untuk keluar kamar sejenak, lalu tanpa rencana jelas saya bergegas mengambil kunci motor dan tancap gas.

Perlahan saya melaju menelusuri sudut-sudut kota lahat, ditengah perjalanan saya melepas helm dari kepala, dan saya benar-benar menikmati hembusan tipis angin malam yang sesekali nakal menembus sela-sela jaket dan membelai lembut kulit tubuh. Saat melintasi salah satu kawasan yang ditumbuhi banyak pohon raksasa saya menarik nafas dalam-dalam untuk bisa mencium mesra aroma daun dan pepohonan. Belum puas sampai disitu saya mengalihkan perjalanan menuju sungai , sesampainya disana saya menikmati cumbuan rayu gemericik air yang membentur batu-batu. Perlahan saya sandarkan wajah diatas telapak tangan dan memejamkan mata sejenak menikmati alunan irama riak-riak air.

Setelah merasa cukup nyaman akhirnya saya memutuskan untuk pulang. Ditengah perjalanan saya menjumpai seorang perempuan tua tanpa alas kaki berjalan lamban membawa bakul dipunggungnya menuju kearah pasar, sekilas bakulnya penuh dengan tumpukan sayuran dan rempah-rempah, belum lagi 2 kantong plastik yang dijijingnya juga penuh dengan sayuran, sesekali dengan susah payah dia menaikkan dan membetulkan posisi bakulnya yang diikat dengan kain. Dari arah belakang seseorang laki-laki berlari-lari mendekati perempuan tua itu, lalu mengambil 2 kantong plastik yang dibawa perempuan itu dan mereka kembali berjalan, tetapi kali ini perempuan tua itu dapat berjalan lebih cepat dari sebelumnya. Tidak jelas siapa laki-laki itu tapi saya bisa memahami makna yang tersirat dikejadian terakhir itu…dan saya bisa melakukan hal itu juga untuk sesama. Selamat Hari Ibu …

Advertisements

Sebuah Tulisan Sebuah Cerita

August 14, 2009

Nguiiiiiiiiiiiiiiiinggggg…..Nguiiiiiiiiiiiiiiiinggggg….. 2x suara sirene yang mengaung dari corong Toa-toa kator PJKA Kota Lahat bertanda jam menunjukkan pukul 07.00. Sumpah males banget bangun dari tempat tidur …. tapi rasa males berubah menjadi rasa semangat karena ingat hari ini ada pawai pramuka yang bakal lewat depan kantor.

Kenapa saya begitu semangat melihat pawai pramuka ??

Masa sekolah saya di SD-SMA banyak diisi dengan kegiatan pramuka, karena di pramuka saya banyak dapet sahabat dari luar sekolah. Di pramuka saya memahami arti mencintai alam, kerjasama, tolong menolong, sopan santun, disiplin dan kemandirian. Di pramuka juga saya belajar bertahan hidup dengan kondisi darurat, banyak deh pelajaran yang bisa dipetik dari pramuka. seperti yang tertuang dalam Dasa Darma Pramuka ini :

Dasadarma Pramuka
Pramuka itu :
1.Taqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa
2.Cinta alam dan kasih sayang sesama manusia
3.Patriot yang sopan dan kesatria
4.Patuh dan suka berMusyawarah
5.Rela menolong dan tabah
6.Rajin, terampil, dan gembira
7.Hemat, cermat, dan bersahaja
8.Disiplin, berani, dan setia
9.Bertanggungjawab dan dapat dipercaya
10.Suci dalam pikiran, perkataan dan perbuatan

Ada satu tambahan lagi yang saya dan temen buat sendiri sebagai bahan bercanda aja, yaitu “Mata Jeli Tangan Terampil” karena saat heking ( mencari jejak) terkadang kami lewat perkebunan buah dan harap maklum karena masih kecil dan nakal saya dan teman-teman terkadang mengambil buah tersebut tanpa permisi sama pemiliknya. Yang ini jangan ditiru…naluriah aja ;p

Nah…makanya saya segera bangun dari tempat tidur karena kangen pengen lihat anak-anak pramuka lewat biar bisa nostalgia dikit lah 🙂


Kopi Pendek dan Kopi Penuh

April 15, 2009

Kota lahat baru saja diguyur hujan dari pukul 17.30 tadi, saya pun pulang dari tempat kerja dalam keadaan basah karena kehujanan di jalan. Selesai mandi dan sholat tiba-tiba aliran listrik padam, dan ini sudah untuk ke-4 kalinya dalam 1 hari ini…ter..la…lu…*logat bang rhoma*.
Akhirnya saya memutuskan keluar rumah untuk menghilangkan rasa penat dan suntuk seharian ini. Saya berjalan menyusuri trotoar di pinggir pertokoan pasar baru, kedua tangan saya masukkan kedalam saku jaket untuk mengurangi hawa dingin dari tiupan angin selepas hujan tadi.
Mata saya tertuju pada sekelompok orang yang sedang ngobrol sambil tertawa lepas disebuah tenda kecil dengan gerobak makanan dan minuman disampingnya, beberapa becak dan motor terlihat parkir disitu, saya tertarik dan mampir di tenda makanan itu. Ada 5 sampai 7 orang yang ada disitu, tanpa menghiraukan kedatangan saya mereka terus bercerita dan tertawa. Disudut meja panjang masih tersisa 1 kursi dan saya duduk disana. Lalu seorang laki-laki tua bertopi menghampiri saya dan bertanya :

Bapak : ” Mau makan apa dek ? silahkan ambil sendiri ”
Saya : ” Iya pak makasih ”

Lalu saya berdiri dan menghampiri setumpuk makanan kecil diatas gerobak itu, sambil memegang piring kecil berisi cuka saya mengambil pempek, tahu goreng, bakwan, dan martabak kecil lalu kembali ketempat duduk saya. Si bapak yang ternyata pemilik tenda gerobak ini menghampiri saya lagi dan bertanya :

Bapak : ” Minum apa dek ? ”
Saya : ” Kopi aja pak ”
Bapak : ” Kopi Pendek apa Kopi Penuh ? ” tanya si bapak
Saya : ” Apa bedanya pak ? ” tanya saya kebingungan

Beberapa orang laki-laki yang berada disitu serentak melihat kearah saya dengan pandangan heran, ada yang tertawa malah, lalu diantara mereka ngomong kepada saya :

Bapak : ” Oi dek, ga’ pernah makan disini ya ”
Saya : ” iya pak, baru sekali ini ”
Bapak : ” Gini dek, kalau banyak duit beli Kopi Penuh, kalau duit pas-pas’an beli Kopi Pendek aja ”
Saya : ” Ya udah, saya pesen kopi pendek aja pak… ”

Tidak lama kemudian saya disodorkan segelas Kopi Panas dengan asap yang mengepul, dari aromanya saya tahu kalau kopi ini tidak murni alias dicampur dengan biji beras atau jagung.

Bapak : ” Ini dek kopi pendeknya ”
Saya : ” makasih pak ”

Saya perhatikan gelas kopi saya, ukuran gelasnya normal tapi isinya cuma setengah gelas… sayapun paham yang disebut kopi pendek adalah setengah gelas, sedangkan kopi penuh adalah 1 gelas penuh ….*sambil manggut-manggut*

Cukup lama saya berada ditenda ini, sambil menghirup kopi saya memperhatikan sekeliling , rata-rata pengunjungnya adalah penarik becak, buruh harian dan tukang ojek. Jujur perasaan saya malam ini campur aduk… antara bahagia, pilu dan bersyukur menggelayuti hati dan pikiran saya…. bahagia saya melihat mereka bisa tertawa dan bercanda, pilu melihat wajah-wajah hitam berkerut, tangan-tangan kasar, dan sendal jepit dengan kaki yang pecah-pecah, bersyukur karena saat ini saya masih bisa bersama mereka dalam keadaan yang sedikit lebih baik dari mereka… bersyukur karena mereka masih diberi kekuatan untuk bisa melalui kerasnya kehidupan….
Hidup ini Keras jika kita Lemah…tapi hidup akan mudah dilalui jika kita kuat …
Dengan uang 3500 rupiah malam saya bisa mengisi perut dan mendapat pelajaran berharga dari mereka yang tertawa dalam hati yang menangis ….


Gurindam keenam Raja Ali Haji

January 26, 2009

Pagi tadi saya duduk termenung sendiri di teras kamar, secangkir kopi telah berkurang setengahnya. 7 tahun lalu saya datang ke kota ini bersama 2 sahabat saya, dan saat ini saya sedang merindukan mereka untuk bertemu dan bercerita. Hanya 2 tahun kami bisa bersama di kota ini, dan kemudian berpisah untuk mencari kehidupan baru dan jati diri masing-masing. Sedang apa kalian saat ini sahabat…..

Perlahan saya memtik gitar yang ada dipangkuan…sejenak terdiam dan saya lantunkan sebuah lagu untuk sahabat… (ini lagunya audy)

Biarkan saja kekasihmu pergi
teruskan saja mimpi yang tertunda
kita temukan tempat yang layak
sahabatku

kupercayakan langkah bersamamu
tak kuragukan berbagi denganmu
kita temukan tempat yang layak
sahabatku

kita mencari jati diri
teman lautan mimpi

aku bernyanyi untuk sahabat
aku berbagi untuk sahabat
kita bisa jika bersama

kita berbagi untuk sahabat
kita bernyanyi untuk sahabat
kita bisa jika bersama

tiba waktunya
kita untuk berbagi
untuk saling memberi

Buat saya sahabat adalah obat…seperti yang diungkapkan Raja Ali Haji dalam Gurindam keenamnya…

Cahari olehmu akan sahabat,
yang boleh dijadikan obat
Cahari olehmu akan kawan,
pilih segala orang yang setiawan

Untuk semua sahabat blog… saya bernyanyi sekali lagi untuk kalian semua ……


Maaf…

December 2, 2008

Saat mobil mulai bergerak…beberapa kali terdengar suara batuk-batuk dari kursi bagian belakang, jujur saja saya terganggu. Perlahan saya menoleh kebelakang, seorang ibu tampak menutupi mulutnya dengan sapu tangan sambil berusaha menahan batuk yang sudah sampai dipangkal kerongkongan. Sekejap dua pasang mata kami beradu…sedikit hati saya terasa berdenyut, saya tidak tahu kenapa. Malam itu pukul 23.17 saya dan orang-orang yang ada di dalam mobil mempunyai tujuan yang sama, menuju kota Palembang. Pukul 23.30 mobil sampai di pool, semua orang diturunkan untuk memisahkan penumpang mobil AC dan Non AC.
Saat semua orang turun saya lihat ibu yang ada dibelakang saya tidak bergerak sama sekali dan tidak berusaha untuk ikut turun bersama penumpang yang lain. Perlahan saya coba bertanya …

Saya : Ga’ turun bu ?
Ibu : ( terdiam…) hanya senyum sedikit dan menggelengkan kepala
Saya : Kita mau ganti mobil bu…
Ibu : (diam lagi ) hanya menyorongkan tangan tanda mempersilahkan saya saja yang turun

Saya pun segera turun untuk registrasi tiket dan berganti mobil, sambil menunggu mobil berangkat saya duduk di kursi tunggu tepat di belakang mobil saya dan ibu tadi. Petugas loket pun segera mengabsen seluruh penumpang satu persatu, saat menyebut nama seorang wanita petugas loket kebingungan karena orang yang dipanggil tidak ada, beberapa kali dia memanggil tapi tetap tidak ada jawaban sampai akhirnya terdengar suara serak disertai batuk dari balik kaca mobil “saya pak…” ternyata ibu yang dibelakang saya tadi yang menjawab. Terlihat wajah petugas loket kurang senang dan ngomel-ngomel sambil berkata “Lain kali turun dulu bu, absen dulu …” Setelah selesai absen selanjutnya petugas loket menaikkan barang-barang penumpang ke bagasi belakang.

Saat bagasi belakang dibuka saya kaget dan tersadar sambil mengucap “Astagfirullah….” saya terdiam sejenak…hati saya berdebar kencang…ingin rasanya saat itu juga saya beranjak berdiri menemui ibu tadi dan mengucapkan satu kata …”Maaf…”

Tahukah sahabat apa yang saya lihat di bagasi itu ? sebuah Kursi Roda… dan saya tahu kenapa ibu itu tidak beranjak turun dari mobil, dan seandainya petugas loket itu juga sadar mungkin dia juga mempunyai perasaan yang sama seperti saya…


Salahkah…

November 26, 2008

Sebut saja namanya pak Nanang…seorang lelaki tua yang umurnya sekitar 52 tahun. Setiap hari ia bekerja sebagai juru parkir didekat kantor saya. Dengan menggunakan topi dan seragam khas berwana orange bertuliskan Penegak Disiplin dibagian punggungnya, tanpa lelah pak nanang mengatur dengan rapi setiap kendaraan yang parkir di daerah kekuasaannya itu. Lalu apa yang istimewa dari pak nanang dimata saya …. ?

Siang itu jam menunjukkan pukul 11.50 menit, saya bergegas mempersiapkan diri untuk ke Masjid yang jaraknya sekitar 200 meter dari kantor untuk melaksanakan sholat Dzuhur. Setelah selesai sholat saya lihat di situ juga ada pak Nanang dan kami pulang bersama. Diperjalanan saya ngobrol dengan beliau dan bertanya…

Saya : ” Pak Nanang setiap sholat Dzuhur ke mesjid ya ?”
Pak Nanang : ” Iya dek, setiap Dzuhur, ashar, Maghrib, isya, shubuh juga kalau sempet”
Saya : ” Trus yang nunggu parkir siapa kalau bapak sholat ?”
Pak Nanang : ” Bapak serahkan sama Allah dek, mungkin bukan rejeki saat Bapak sholat terus ada
yang parkir disitu, yang penting Bapak jangan sampai kehilangan rejeki untuk bisa
berhadapan dengan Allah ”
Saya : ” Bapak tinggal dimana ? ”
Pak Nanang : ” Dibelakang gedung itu, deket rumah pak RT ” sambil tangannya menunjuk sebuah
gedung 2 tingkat
Saya : ” Rame ya pak parkirannya ? ”
Pak Nanang : ” Kadang-kadang dek, anak sekolah sama orang kantoran yang makan disini ”

Pembicaraan kami terputus karena pak Nanang ingin berganti pakaian dan bertugas kembali…
Buat saya pak Nanang punya keistimewaan yang tidak semua orang bisa melakukan kewajiban sebagai umat muslim , apa saja ….

1. Sholat Berjamaah di Mesjid
Dengan tegasnya dia berkata ” yang penting Bapak jangan sampai kehilangan rejeki untuk bisa berhadapan dengan Allah ” subhanallah… saya kagum dengan pernyataan beliau. Dilain pihak saya atau anda lebih menyukai sholat sendiri-sendiri atau bahkan sibuk dengan kerjaan masing sampai lupa suara adzan yang mengaung di seantero pasar itu. Tulikah telinga kita ? kita tidak tuli tetapi kita ditulikan pekerjaan duniawi yang memaksa kita harus bersikap tuli.

2. Berganti Pakaian Saat Beribadah
Secara tidak sadar beliau mementingkan kebersihan dan tahu tata cara menghadap Allah. Saat bertugas sebagai juru parkir pakaian pak nanang layaknya juru parkir lainnya, namun saat beribadah beliau mengganti pakaian dengan pakaian yang bersih dan rapi. Ini sangat berbanding terbalik dengan dengan saya pribadi dan mungkin juga anda, yang memilih menggunakan pakaian kerja yang sudah 2 sampai 3 hari dipakai tapi dipakai juga untuk menghadap Allah. Salahkah kita ? kita tidak salah tapi disalahkan oleh pekerjaan duniawi yang memaksa kita berlaku seperti itu.


Pernah ngalamin kayak gini ?

November 14, 2008

Bangun tidur pagi ini saya merasakan hal yang aneh, sebuah peraasaan seolah-olah saya pernah merasakan kejadian ini sebelumnya dan sama persis seperti kejadian waktu itu. Saya sempat terdiam sebentar dan mencoba mengingat-ingat kembali kejadian ini. Berbagai pertanyaan muncul dibenak saya seperti dimana ? kapan ? dengan siapa ? …. sebenarnya ini bukan kali pertama saya merasakan hal gini, seingat saya sejak SD sudah pernah ngerasain hal aneh ini. Kata temen saya ini fenomena Dejavu, yang secara metafisis berasal dari kejadian yang sama dan pernah dialami oleh jiwa kita dalam salah satu kehidupan reinkarnasi sebelumnya di masa lampau. Kok bisa ya ? aneh aja ngerasainnya … setelah saya ingat-ingat dan analisa dikit, saya merasakan hal ini setiap kali pindah tempat tinggal, misalnya pindah kota. Ehmm…apa setiap orang pasti ngerasain hal kayak gini ya? atau ada yang tidak pernah ngerasain fenomena ini ?