Malam itu Kereta Limex Sriwijaya jurusan Tanjung Karang berjalan pelan tanpa semangat, tidak sabar rasanya hati saya untuk segera sampai di kampung halaman. Jam di HP saya menunjukkan pukul 05:03 pagi, perlahan kereta berhenti dan saya pun tiba disebuah stasiun kecil kampung saya. Segera saya mengambil tas dan bergegas turun sambil melangkah hati-hati melewati rintangan orang-orang yang tidur di lantai kereta.
Hembusan angin lembut pagi membuat saya merangkapkan kedua tangan didada menahan dingin, sampai diluar stasiun saya menghampiri sebuah becak dan mencoba untuk menawar…
Saya : Ke jalan asri berapa bang ?
T. Becak : 7000 jawabnya
Saya : 4000 aja bang… biasanya segitu kok , saya mencoba untuk menawar
T. Becak : Ga’ bisa, ini masih pagi…kalau siang boleh
Saya : 5000 ya
T.Becak : Ga’ bisa, kl mau murah becak itu aja… sambil tangannya menunjuk sebuah becak di pojok dinding
Saya : Ya udah, makasih bang….
Saya pun berlalu dan menghampiri becak yang disebutkan abang becak tadi sambil berfikir mengingat kata-kata si abang tadi ” …Kalau mau murah becak itu aja…” apa maksudnya ya ? saya penasaran…
Sesampainya di depan becak itu hati saya terenyuh… tampak seorang bapak tua tertidur pulas di dalam becak tersebut, saya merasa tidak tega untuk membangunkannya, tapi saya tidak ada pilihan lain, perlahan saya membangunkannya
Saya : Pak….pak…
Bapak : agak tergagap dan dia segera bangun… Ya…
Saya : narik ga’ pak ?
Bapak : oh..iya..ya.. kemana dek ?
Saya : Jalan asri pak, berapa ?
Bapak : 3000 sambil menunjukkan 3 jarinya
Saya : ??? belum lepas rasa kejut saya si bapak langsung menyuruh saya naik
Bapak : Ayo naik…kata si bapak sambil memutar becaknya
Diperjalanan saya mikir, apa bapak ini ngigau dan salah sebut harga ya….namun hati saya semakin terenyuh dan tidak tega mendegar hembusan nafas yang berat dari bapak penarik becak, belum lagi kondisi becak yang terlihat sudah tua dan mulai merapuh. Saya pun berniat turun untuk mencari becak yang lain…
Saya : Pak… saya turun sini aja pak …
Bapak : Kok turun sini, kan belum sampe
Saya : Gak apa-apa pak…
Bapak : Kenapa dek, bapak masih kuat kok jangan khawatir…jawabnya sambil terus mengayuh becaknya
Untunglah rumah saya tidak terlalu jauh dan tidak berapa lama saya sudah sampai di rumah, saya segera turun dari becak dan merogoh kantong mengeluarkan selembar uang 20.000 dan menyerahkan kepada bapak itu
Bapak : Uang pas aja dek, bapak ga ada kembalinya…
Saya : …. ya udah kembalinya buat bapak aja, saya juga lagi ga ada uang pas
Bapak : Makasih ya dek…. alhamdulillah bapak bisa bayarin SPP Cucu bapak pagi ini …
Saya : …… ???
Si bapak tua pun berlalu sambil memutar becaknya ….
Kalau rejeki memang tidak kemana-mana larinya…tapi kalau bukan rejeki sekeras apapun usaha rejeki tidak akan berpihak kepada kita….
Seandainya Tukang becak pertama menerima tawaran saya mungkin pagi ini adalah rejekinya, tapi ternyata malah si Bapak tua yang mendapat rejeki lebih…Tuhan memang maha adil…
Posted by maskoko
Posted by maskoko
Posted by maskoko 



